TAXI DRIVER (1976)
Hmmm… Mantap banget film ini. Walaupun jalan ceritanya mungkin membingungkan. Tapi inilah “Taxi Driver”, salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Setiap kali saya menonton film ini di waktu yang berbeda, saya melihat, merasakan, dan mendapatkan sesuatu yang berbeda dan tetap merasakan bahwa film ini adalah film keren yang membingunkan.
Travis Backle (Robert de Niro), adalah seorang yang menderita insomnia dan kesepian. Taxi Driver adalah film tentang sebuah kesepian (loneliness) dan kesepian adalah sebuah keadaan yang digambarkan dengan kebosanan dan kehampaan. Di sini Robert de Niro memerankan dengan baik karakter Travis Backle. Dia (Travis Backle) seorang yang melakukan sesuatu yang kelihatannya dia tidak mengetahuinya. Apa yang diperbuatnya tidak rasional, karena dia tidak rasional. Yang dilakukannya tidaklah masuk akal, karena dia memang membuatnya tidak masuk akal. Saya sendiri merasakan bahwa film ini keren setelah menonton beberapa kali.
Karena kesepian dan penyakit insomnianya itulah dia memutuskan untuk mendaftar sebagai supir taksi. Dia lebih banyak beroperasi di malam hari sampai pagi hari. Karena jam kerjanya yang lama itulah dia memperoleh penghasilan yang lebih banyak. Dengan penghasilan yang lebih banyak itu dia bingung dan dia melakukan hal-hal yang tidak rasional. Ada juga adegan di mana dia mulai menyukai seorang wanita. Setalah permulaan hubungan keduanya berjalan baik, lagi-lagi dirusak oleh ulah Travis yang melakukan sesuatu yang lagi-lagi tidak masuk akal.
Ending dari film ini cukup membingungkan dan kontroversial. Namun dari keadaan itulah muncul beberapa diskusi, apakah kejadian-kejadian tersebut merupakan khayalan Travis? Apakah dia benar-benar menjadi pahlawan kota dan dimuat di beberapa media massa?
GOODFELLAS (1990)

Lagi-lagi disini Martin Scorsese bekerja sama dengan Robert de Niro. Film ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Gangster menjadi tema dalam film ini. Seperti yang kita ketahui, gangster/mafia beredar di sekitar kita.
“As far back as I can remember, I’ve always wanted to be a gangster.” – Henry Hill, Brooklyn, N.Y. 1955.
Film ini diangkat dari sebuah kejadian nyata yang dinovelkan terlebih dahulu oleh Nicholas Pileggi dengan judul “Wiseguys”. Film ini mengeksplorasi kehidupan gangster dan dilihat dari kacamata Henry Hill (Ray Liotta), yang mulai tertarik dengan kehidupan mafia semenjak dia masih kecil.
Henry Hill menjadi anggota gangster sejak kecil, dan setelah dewasa, dirinya menikah dan mempunyai anak. Akan tetapi, dia masih bekerja untuk Keluarga Mafia di bawah Paulie (Palul Sorvino) dan berteman dengan Jimmy (Robert de Niro) dan Tommy (Joe Pesci). Di sini, Henry Hill terlibat dengan obat-obatan yang identik dengan kehidupan gangster.
Acungan jempol patut diberikan kepada Robert de Niro yang gemilang memainkan Jimmy, Joe Pesci sebagai Tommy seorang gangster yang temperamen dan juga gila! Ray Liotta juga menampilkan Henry Hill dengan baik. Dan bagi Martin Scorsese sebagai sutradara, ini adalah film terbaiknya (selain Taxi Driver). Namun, dalam perhelatan Acadeny Award, film ini kalah dari Dances with Wolves (Sutradara Kevin Costner).
Film ini juga merupakan salah satu embrio film-film era 1990an, seperti Silence of The Lambs, Pulp Finction, Fargo, LA Confidential. Tak salah jika banyak situs-situs film terkemuka menempatkan film ini sebagai salah satu 100 film terbesar sepanjang masa.
GANGS OF NEW YORK (2002)
Film dengan latar New York di akhir abad ke 19. Film dimulai dengan perseteruan ‘Priest’ Vallon (Liam Nesson) dengan Bill ‘The Butcher’ Cutting (Daniel Day-Lewis). Perseteruan itu ditandakan dengan perang darah. Dalam perang ini dimenangkan oleh Bill ‘The Butcher’ Cutting yang kemudian menguasai New York. Amsterdam Vallon (Leonardo di Caprio) anak dari Vallon menyaksikan sendiri kematian ayahnya. Dia pun pergi melarikan diri kluar New York. Setelah dewasa Vallon pulang kembali ke New York dengan tujuan utama melakukan balas dendam atas kematian ayahnya.
Saat kembali lagi ke New York, Vallon bertemu seorang wanita cantik bernama Jenny Everdeane (Cameroon Diaz) yang kemudian menjalin cinta. Akan tetapi, sebenarnya Jenny Everdeane adalah juga pacar dari Bill Cutting.
Pada awalnya, Bill Cutting tidak mengetahui bahwa Vallon merupakan anak dari Pendeta Vallon yang dia bunuh. Setelah mengetahui, hubungan keduanya pun meruncing. Film ini ditutup oleh perang part II antara Vallon dan Bill Cutiing.
Film ini mendapatkan beberapa nominasi Oscar. Namun dari 10 nominasi, di antaranya best picture, film ini tidak menyabet satupun piala.
THE AVIATOR (2004)
Film tahun 2004 yang menyabet 5 piala Oscar di antaranya:
1. Best Achievement in Art Direction: Dante Ferretti (art director) , Francesca Lo Schiavo (set decorator)
2. Best Achievement in Cinematography: Robert Richardson
3. Best Achievement in Costume Design: Sandy Powell
4. Best Achievement in Editing: Thelma Schoonmaker
5. Best Performance by an Actress in a Supporting Role: Cate Blanchett
Namun, dari sekian banyak penghargaan Oscar, sayangnya film ini tidak masuk dalam “best picture”.
Untuk kedua kalinya setelah Gangs of New York, Martin Scorsese bekerja sama dengan Leonardo di Caprio. Di film ini di Caprio memerankan Howard Hughes, sosok yang sangat ambisius. Awalnya Hughes mempunyai obsesi untu membuat film yang mencengangkan, hasilnya pun pisitif. Selanjutnya Hughes mempunyai obsesi lain, yakni mempunyai sebuah perusahaan pesawat terbang yang menguasai penerbangan Amerika. Dalam bisnis penerbangan ini, Hughes mempunyai pesaing dari perusahaan lain yang dimiliki oleh Juan Tippe (Alex Baldwin).
Dalam urusan percintaan Hughes terlibat cinta dengan dua sosok wanita yakni Katharine Hepburn (Cate Blanchett) dan Ava Gardner (Kate Beckinsale). Yang pada akhirnya Hughes memilih untuk hidup dengan Hepburn. Sebagai catatan, acting Cate Blanchett pada film ini bagus, tidak mengherankan jika dirinya mampu menyabet piala Oscar.
THE DEPARTED (2006)
Untuk ketiga kalinya, Martin Scorsese bekerja sama dengan Leonardo di Caprio. Anak kesayangan baru setelah Robert de Niro.
The Departed merupakan film yang diadaptasi dari Film Internal Affairs (IA). Banyak komentar-komentar yang menyatakan bahwa film ini jauh di bawah IA. Namun, film ini tetap film bagus, hal ini ditunjukkan dengan memperoleh penghargaan berupa “Best Picture” di ajang Academy award 2007. Memang untuk acting para bintang-bintangnya tidak lah bagus. Walaupun didukung oleh nama-nama beken seperti Leonardo di Caprio, Matt Damon, Mark Wahlberg, sampai Jack Nicholson. Alur dan jalan ceritanya pun mudah ditebak.
Inti dari cerita film ini adalah adanya mata-mata di polisi maupun mafia. Mafia memasukkan mata-mata di kepolisian begitu juga Kepolisian memasukkan mata-mata di mafia. Lenardo di Caprio memerankan William Costigan Jr. seorang polisi yang kemudian oleh Quenann dijadikan mata-mata di mafia. Sedangkan Matt Damon sebagai Sullivan adalah mata-mata di kepolisian yang telah dididik oleh bos mafia Frank Costillo (Jack Nicholson) sejak kecil.
Walaupun jalan ceritanya mudah ditebak, namun film ini tepap menunjukkan intrik-intrik dan adegan-adegan yang menarik. Sebelum film berakhir, ada sebuah adegan di mana Sullivan ditolong oleh seorang polisi yang mengetahui bahwa Sullivan sebenarnya mata-mata untuk mafia di kepolisian. Orang itupun berkata ke Sullivan: “Kamu kira kamulah satu-satunya mata-mata mafia?”. Yah, dari dialog tersebut kita berpikir, apakah mata-mata dikirim lebih dari satu orang. Dan memang benar, antara mata-mata yang satu dan yang lainnya tidak mengetahui satu sama lain walaupun mereka sama-sama mata-mata.
Satu lagi, menarik ditunggu kolaborasi antara Leonardo di Caprio dengan Martin Scorsese dalam film Shutter Island yang sedianya akan dirilis Oktober 2009.