Entah itu hobi, kesenangan, pleasure atau apalah itu namanya, aku seneng membaca kisah perjalanan orang, terutama kisah seorang pengusaha sukses yang mulai menjalankan usahanya dari Nol (0).
Contoh kasus pengusaha seperti Eka Tjipta Wijaya, Bob Sadino, Ciputra, Sukamdani Sahid memulai membangun istana usahanya mulai dari nol.
Eka Tjipta Wijaya, keturunan tionghoa yang menghabiskan masa kecilnya di Makassar. Ia memulai menularkan naluri bisnisnya dengan menjajakan biskuit dan kembang gula. Ia sukses di bisnis itu hingga kemudian mengembangkan usahanya ke bisnis beras. Namun ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu Indonesia, termasuk ke Makassar, sehingga usahanya hancur total. Ia menganggur total, tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Kembali dia memutar otaknya untuk berbisnis, mulai dari berjualan semen, terigu, arak Cina, sampai berbisnis pembangunan kuburan orang kaya. Berhenti sebagai kontraktor kuburan, ia berdagang kopra, dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Namun gara-gara Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi Eka rugi besar dan bangkrut. Ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Tapi ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, ia rugi besar, modalnya habis lagi, bahkan berutang.
Begitulah usaha Eka yang dibangun di awal-awal. Jatuh bangun-jatuh bangun. Akan tetapi dengan mental pengusaha sejati yang tidak mengenal lelah, Eka terus bangkit dari keterpurukan. Saat era Orde Baru inilah, Eka membangun perusahaan Tjiwi Kimia, 1976. Tahun 1980-1981 ia membeli perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu hektar di Riau. Tahun 1982, ia membeli Bank Internasional Indonesia. PT Indah Kiat juga dibeli. Tidak cuma di bisnis perbankan, kertas, minyak, Eka juga merancah bisnis real estate. Dibangunnya ITC Mangga Dua, ruko, apartemen lengkap dengan pusat perdagangan.
Itulah sebuah cerita singkat mengenai perjalanan hidup Eka Tjipta Wijaya hingga penjadi pengusaha kaya seperti sekarang ini.
Contoh lain kita bisa lihat perjalanan Sukamdani Sahid pendiri Hotel Sahid Raya. Sukamdani lahir di Solo. Ketika Sukamdani kecil, kehidupan orangtuanya prihatin. Dalam usia 8 tahun, Sukamdani sudah membantu kedua orang tuanya mencari nafkah. Selain membantu bapaknya, ia juga membantu ibunya berjualan. Tiap kali dagangan laku, ibunya memberi persenan. Uang itu ditabung. Kalau sudah banyak Sukamdani membeli ayam. Di saat liburan Sekolah Sukamdani membantu menuai padi di sawah.
Tahun 1952, Sukamdani muda merantau ke Jakarta untuk memperbaiki nasib. Ia sempat bekerja di Depdagri. Tapi dengan pertimbangan penghasilan, lalu keluar dan bekerja di percetakan NV Harapan Masa. Awalnya dia tinggal di sebuah kamar yang hanya berukuran 3 x 3.
Karena keuletannya, apalagi setelah membuka usaha percetakan sendiri, Sukamdani berhasil membeli tanah di tempat ia menyewa rumah itu. Dan, tanah itu, tak lain adalah tempat berdirinya Hotel Sahid Jaya sekarang di Jalan Sudirman.
Untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses, dibutuhkan kesabaran, keuletan, dan kerja keras. Mental juga haruslah pantang menyerah. Jangan putus asa apabila memperoleh hambatan. Selain itu dibutuhkan juga manajemen keuangan yang baik seperti yang pernah diutarakan Eka:
“Kecuali itu, hematlah,” tambahnya. Ia menyarankan, kalau hendak menjadi pengusaha besar, belajarlah mengendalikan uang. Jangan laba hanya Rp. 100, belanjanya Rp. 90. Dan kalau untung Cuma Rp. 200, jangan coba-coba belanja Rp. 210,” Waahhh, itu cilaka betul,” katanya.
Dari perjalanan orang-orang seperti itulah, kita belajar bagaimana seharusnya mengarungi dunia kehidupan ini.
